Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh...
Salam Ukhuwah Fillaah !!!
Dalam Islam, wanita bukanlah barang temuan, makhluk yang hina dina, atau sesuatu yang disepelekan. Akan tetapi, ia adalah ibu yang bertugas sebagai pendidik, saudara perempuan yang memiliki kemuliaan, istri yang bersungguh-sungguh, dan anak perempuan yang dinamis. Ya, Islam datang untuk membebaskan wanita dari belenggu Jahiliyah. Sehingga Islam mengharamkan mengubur hidup-hidup anak perempuan dan menetapkan bagian hak waris kepadanya. Sejumlah syariat turun untuk mencegah adanya cara pandang sebelah mata kepada perempuan. Islam menjadikannya sebagai sebuah pribadi yang berdiri sendiri. Ia dapat melakukan transaksi jual beli dan membelanjakan hartanya sesuai dengan aturan syariat.
Dari sinilah, seorang perempuan bertolak untuk beraktivitas dan ikutserta dalam membangun umat islam. Bahkan, ia akan berpartisipasi dalam berbagai peperangan. Ia keluar bersama suaminya dalam melaksanakan hijrah, peperangan atau penaklukan sebuah negeri. Wanita muslimah tidak mengenal sikap tertutup, diam dan bersembunyi di balik kebodohan serta larangan berbaur dengan masyarakat, tanpa diberikesempatan untuk memainkan peran dalam hidupnya.
Namun, kala seorang wanita bertolak untuk ikut serta dalam membangun masyarakatnya, maka hendaklah ia berpegang pada adab-adab islami dalam hal berpakaian, sehingga ia tidak mengenal tabarruj; dalam hal kata-kata, sehingga ia tak sampai mengalun-alunkan ucapan; dalam hal perangai, sehingga ia tidak menyimpang; dalam hal cara jalan, sehingga ia tidak menghentak-hentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang ia kenakan. Sehingga seorang wanita akan hidup suci, mulia, dan terjaga. Kecantikan, kesempurnaan, kesucian, dan kehidupannya adalah anugerah dari ALLAH dan hadiah dari Agamanya. Oleh karena itu, wanita adalah pendidik generasi, pembimbing kaum laki-laki, istri seorang mujahid, pengajar yang bersungguh-sungguh serta mampu untuk memenuhi dunia dengan kebaikan dan berkah.
Selanjutnya, kondisi zaman telah berubah. Keburukan mulai menyebar luas. Kaum wanita mengalami seperti apa yang dialami kaum laki-laki, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah.
Wabah yang menyerang umat lain mulai merayap menuju kaum wanita muslimah. Di mana sebagian wanita muslimah mengikuti para wanita Barat dalam hal ketelanjangan, tabarruj, dan berbaur tanpa batas. Kaum wanita tersebut mengira bahwa peradaban dan kemajuan terletak pada hal-hal tersebut. Mereka tidak tahu bahwa wanita Barat tidak mendapatkan kebebasan, melainkan kaum laki-laki yang tidak mengenal Allah telah mendapatkan kesuksesan dengan riang gembira. Mereka telah mampu mengeluarkan kaum wanita dari rumahnya dengan perhiasan yang glamour. Kaum wanita tersebut bersusah payah memamerkan perhiasan dan tubuhnya, sedangkan orang-orang berseru, " Jadilah wanita yang menarik. Jadilah wanita yang bebas. " Untuk mewujudkan semua itu, mereka mengorbankan harta dan waktunya yang tidak sedikit sedangkan kaum laki-laki tidak mengorbankan apa-apa. Kaum laki-laki hanya menikmati dari apa yang dia keluarkan. Sehingga jika seorang wanita telah kehilangan kecantikannya dan telah padam kilauannya, maka ia akan mendapati semua orang menolaknya. Mereka meninggalkannya hingga akhir hidupnya. Tidak ada keluarga yang menafkahinya. Bahkan tidak ada yang menaruh belas kasihan kepadanya untuk menolongnya setelah waktu berlalu, sedangkan ia berada dalam musibah yang besar.
Ia telah mengorbankan segalanya; kehormatan, kecantikan, dan rasa malunya. Setelah itu, ia akan keluar rumah dalam kondisi terlunta-lunta, lapar, serta bergelut dengan rasa sakit dan masa tua, tanpa disertai oleh seorang suami yang mulia, ayah yang penyayang, anak yang berbakti atau saudara yang senantiasa berkunjung kepadanya.
Apakah kondisi seperti ini selaras dengan para muslimah sebelum mereka sampai pada kondisi sperti itu?
Sesungguhnya wanita muslimah ikut berperan serta dalam kebangkitan umat. Ia harus berada dalam jalan orang-orang sebelumnya dari kalangan para wanita yang utama, bertakwa, suci, memegang rasa malu, jujur, dan memenuhi perjanjian. Hijab yang ia kenakan adalah perintah Rabbani dan warisan Nabi, yang menempatkan peran sertanya dalam masyarakat sebagai peran yang menghasilak nilai positif, bukan malah merobohkan tatanan masyarakat.
Ia akan menghasilkan kesucian, penjagaan, dan menghalangi hati agar tidak terjerembab dalam fitnah. Sehingga hati manusia akan menjadi tenang, jiwa mereka akan menjadi tenteram, syahwat akan menjadi padam, dan akhlak akan menjadi baik. Dengan demikian, masyarakat pun akan menjadi sukses.
Peran wanita jangan sampai menjadi mesin penghancur yang menghancurkan hati dan akal, mengobarkan api fitnah, serta pemendam syahwat. Sehingga masyarakat kehilangan jati dirinya dan kehilangan kekuatannya.
Na'uudzubillaah......
[ dikutip dari goresan pena Yasri Muhammad Hani' ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar